Home / News / Ekonomi / HT: Rasio Pajak Rendah, Pemerintah Harus Cermati Transfer Pricing

HT: Rasio Pajak Rendah, Pemerintah Harus Cermati Transfer Pricing

HT: Rasio Pajak Rendah, Pemerintah Harus Cermati Transfer Pricing

HT: Rasio Pajak Rendah, Pemerintah Harus Cermati Transfer Pricing

JagoBola.com – Potensi pajak Indonesia belum tergarap maksimal. Rasio pajak Indonesia terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Sejak 2013, rasio pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun.

“Dari kisaran 12 persen tahun lalu, tinggal 11 persen. Padahal pada periode yang sama, PDB kita tumbuh,” kata Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro saat berdialog bersama CEO MNC Group Hary Tanoesoedibjo (HT) dan Kepala Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida dalam acara MNC Business Awards 2015.

Ekonomi bertumbuh sebesar 5-6 persen, tetapi tax ratio justru turun. “Berarti jelas ada problem. Bukan dengan kondisi ekonomi terhadap penerimaan pajak, tapi kepada konteks administrasi dan tax collection. Dan kalau kita lebih jauh, tingkat kepatuhan pajak kita cuma 50 persen. Itu salah satu penyebabnya,” kata Bambang.

Dia melanjutkan, basis pajak Indonesia memprihatinkan. Dari 250 juta orang, yang berpotensi membayar pajak karena dia bekerja 45 juta orang. Namun, yang terdaftar NPWP hanya 28 juta orang. Sementara dari yang terdaftar 28 juta orang, hanya 10 juta yang menyampaikan SPT secara rutin.

“Dari 10 juta, hanya 900 ribu pembayar pajak yang benar-benar membayar PPh orang pribadi. Dan sebagian besar problem kita adalah kita memang belum membayar pajak dengan benar,” kata Bambang.

Dalam kesempatan tersebut HT mengatakan, untuk memperbaiki rasio pajak ada hal yang patut dicermati yaitu transfer pricing dalam ekspor. “Saya ada masukan, bicara soal tax ratio salah satu yang perlu dicermati itu adalah transfer pricing ekspor kita,” ungkapnya.

Sebagai informasi, transfer pricing adalah kebijakan perusahaan dalam menentukan nilai transaksi berupa barang, jasa, harta tak berwujud, atau transaksi finansial. Dalam transfer pricing kerap terjadi transaksi dengan nilai tidak wajar. Bisa menaikkan atau menurunkan harga dalam transaksi.

Dalam transaksi ekspor, hal tidak wajar yang kerap terjadi adalah menurunkan nilai penjualan. Termasuk untuk produk komoditas. Tujuan dari pengurangan nilai jual tersebut agar keuntungan terlihat tipis, supaya bisa mengurangi pajak. Transaksi transfer pricing tidak wajar dilakukan dengan cara mengirimkan produk dari perusahaan di Indonesia ke perusahaan yang juga sama. Baru kemudian dikirimkan ke negara tujuan.

“Perusahaan di Indonesia ekspor produk ke Amerika senilai USD100. Tapi barang tersebut di ekspor dulu ke perusahaan yang juga miliknya di Singapura senilai USD60, baru kemudian dari Singapura diekspor ke Amerika dengan harga USD100 sehingga USD40 berada di Singapura. Jadi itulah kenapa dolar kita banyak tersimpan di sana,” kata HT.

Karena transfer pricing tersebut, negara mengalami rugi karena penerimaan pajak lebih rendah dari seharusnya. Seperti diberitakan di berbagai media diperkirakan potensi kehilangan akibat transfer pricing lebih dari Rp 1.000 triliun per tahun. Selain itu dolar terpakir di negara lain. Akibatnya, cadangan devisa Indonesia hanya sebesar USD110,8 miliar per akhir Mei 2015.

About Jago Bola

JagoBola.com Situs Prediksi Bola Online dan Berita Bola Online Terupdate, Prediksi Sepak Bola, Berita Sepak Bola, News, Gosip Artis

Check Also

Penerbitan Pergub Rusunami Dinilai Berpotensi Jadi Bom Waktu

Penerbitan Pergub Rusunami Dinilai Berpotensi Jadi Bom Waktu JAKARTA – Penerbitan Ketentuan Gubernur (Pergub) No ...